ONG39 – Banjir yang melanda Kelurahan Jati Padang selama tiga hari berturut-turut tidak hanya meninggalkan genangan air dan lumpur. Tetapi juga membawa ancaman kesehatan yang serius. Pasca surutnya air, warga justru menghadapi wabah baru yaitu keluhan gatal-gatal pada kulit dan penyakit diare. Penyakit tersebut mulai menyerang ratusan penduduk, dari anak-anak hingga orang dewasa.
Kondisi lingkungan pasca-banjir menjadi pemicu utama merebaknya kedua penyakit ini. Air banjir yang kotor, bercampur dengan sampah, limbah rumah tangga, dan kotoran dari septic tank, telah mengontaminasi segala sesuatu yang terendam. Saat warga membersihkan rumah mereka, kontak langsung dengan air yang tercemar inilah yang memicu iritasi dan infeksi kulit. “Seluruh badan saya gatal-gatal dan muncul bintik-bintik merah setelah membersihkan rumah. Anak saya yang kecil juga mengalaminya,” keluh Sari, salah satu warga, sambil menunjukkan ruam di tangannya.
Sementara itu, sumber air bersih yang turut tercemar diduga kuat menjadi asal wabah diare. Banyak sumur penduduk yang ikut tergenang, membuat airnya tidak layak konsumsi. Ketergantungan pada air yang terkontaminasi bakteri, seperti E. coli, untuk minum, memasak, dan mencuci peralatan makan, menjadi jalur utama penularan penyakit pencernaan ini. Puskesmas terdekat melaporkan peningkatan signifikan kunjungan pasien dengan gejala mual, muntah, dan dehidrasi.
Dinas Kesehatan Mengambil Tindakan
Menyikapi hal ini, Dinas Kesehatan setempat telah bergerak cepat. Tim medis diterjunkan ke lokasi untuk memberikan pertolongan pertama dan melakukan pemeriksaan gratis. Tim juga memfokuskan bantuan pada distribusi air bersih dalam kemasan untuk memastikan warga memiliki akses ke air minum yang aman. “Kami mendistribusikan oralit untuk mencegah dehidrasi parah pada penderita diare, serta salep untuk meredakan gatal-gatal,” jelas dr. Anwar dari Puskesmas Jati Padang.
Selain penanganan medis, pihak berwenang juga menggenjot upaya promotif dan preventif. Mereka mendidik masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan diri, terutama dengan mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Warga juga diimbau untuk tidak mengonsumsi makanan yang mungkin terkontaminasi air banjir dan merebus air minum hingga matang jika belum mendapatkan air kemasan.
Kejadian ini menyadarkan semua pihak bahwa dampak banjir tidak berhenti ketika air surut. Ancaman kesehatan pasca-bencana sering kali lebih berbahaya dan memerlukan penanganan yang sistematis. Kerjasama antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat sangat penting untuk memutus mata rantai penyakit dan memulihkan kondisi kesehatan warga Jati Padang. Pemulihan infrastruktur air bersih dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik juga menjadi pekerjaan rumah yang mendesak untuk mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan.
Berita Sebelumnya
- Menurut Pakar Pariwisata : Para Turis Yang Berkunjung Hanya Sekedar Penasaran Terhadap IKN
- Terjadi Macet Parah di Jakarta,Mengakibatkan Kendaraan Tidak Bisa Bergerak
- Terjadinya Banjir di Bandung Menggangu Proses Belajar Mengajar Anak SD di Cisolok
- Terjadi Gempa di Aceh Sinabang Dengan Kekuatan Meter 4, 1
- Jakarta diguyur Hujan Yang Menyebabkan Terjadinya Banjir. Apa Langkah Pemerintah Buat Menanggulangi Permasalahan Tersebut?
